Para Birokrat Muda Bandung Untuk Indonesia

 

19 Oktober 2015

Profil Pegawai Negeri Sipil Indonesia

Menurut Undang-undang  No. 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian definisi Pegawai Negeri Sipil adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri atau diserahi tugas negara lainnya yang ditetapkan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan dan digaji menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di dalam UU No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara ada 2 (dua) terminologi Pegawai Aparatur Sipil Negara, Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK. Pegawai Negeri Sipil didefinisikan sebagai berikut: Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat Pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.

Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Birokrasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi menyebutkan, jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di seluruh Indonesia saat ini ada 5 juta orang lebih (data bulan Maret 2015). Dengan jumlah sebesar ini, kurang lebih 2 % dari jumlah total jumlah seluruh rakyat Indonesia. Lalu bagaimanakah profil para PNS kita saat ini? Apakah sudah membawa banyak kebaikan, kemajuan dan perubahan bagi pelayanan publik?

Dari berbagai literatur dan referensi mengenai apa saja permasalahan pengelolaan PNS di Indonesia yang paling kompeten menjabarkannya secara cukup menyeluruh adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). Menjabarkan masalah PNS menurut MenPANRB haruslah berangkat dari permasalahan yang dihadapi NKRI.

Menurut Menteri PANRB setidaknya ada tiga hal utama yang saat ini dihadapi NKRI yaitu pertama adalah masalah Infrastruktur yang tidak memadai yang meliputi pembangunan sarana dan kemampuan pendanaan dalam pelayanan publik, kedua adalah masalah birokrasi yang masih lamban, berlapis-lapis dan tidak efisien, dan ketiga adalah masalah korupsi yang terjadi dalam berbagai hal.

Khusus untuk permasalahan yang kedua yaitu masalah birokrasi, Menteri PANRB menjabarkan lagi secara terperinci ke dalam lima masalah utama yaitu pertama masalah organisasi yang masih banyak tidak tepat sasaran dan kewenangan yang masih sangat tidak jelas di Indonesia, kedua masalah layanan publik yang masih tidak memenuhi kebutuhan dan memuaskan kebutuhan masyarakat , ketiga adalah pola pikir dan budaya kerja yang belum mendukung birokrasi yang efisien, efektif, produktif, profesional dan melayani, keempat peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih, tidak jelas dan multi tafsir, dan kelima adalah kondisi jumlah PNS yang mencapai 5 juta jiwa dengan kuantitas penyebarannya tidak sesuai kebutuhan, kualitas dan produktifitas masih rendah, penggajian belum adil (berdasarkan beban kerja dan jabatannya), serta kesejahteraan masih kurang dan tunjangan kinerja belum memadai.

Dari uraian di atas dapat kita pahami bagaimana ruwetnya permasalahan pengelolaan PNS di negara kita.

 

Bandung Juara Untuk Indonesia

Kota Bandung saat ini kurang lebih genap dipimpin selama 2 (dua) tahun oleh Ridwan Kamil. Banyak sekali prestasi dan kemajuan yang terjadi di bawah kepemimpinan beliau. Selain hasil-hasil fisik yang terlihat seperti pembuatan dan perbaikan taman-taman kota lalu infrastuktur seperti gorong-gorong, sungai, selokan, jalan dan trotoar, Pemerintah Kota Bandung sudah mendapat banyak penghargaan dan apresiasi. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Yuddy Chrisnandi mengungkapkan pujiannya. “Ini adalah karena komitmen dari kepala daerahnya. Sebab, faktor terpenting terjadinya perubahan berawal dari komitmen pemimpinnya. Bagaimana seorang kepala daerah mampu memotivasi perangkat kerjanya, untuk bekerja maksimal demi kemajuan kota dan kesejahteraan masyarakatnya. “Karena yang mampu menggerakan perubahan, memotivasi, menjadi keteladanan adalah pemimpin, dalam hal ini kepala daerah.” Pak Yuddy juga mengapresiasi jajaran staf dan kepala SKPD yang telah bahu-membahu memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Keberhasilan ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya dukungan dari kepala SKPD dan aparatur sipil negara di Kota Bandung yang jumlahnya sekitar 20 ribuan,” Pak Ridwan Kamil juga berujar: “Ukuran perubahan itu adalah SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan). Dulu SAKIP Pemkot Bandung buruk nilainya 50, sekarang dapat 80. Dulu nilainya C sekarang dapat A. Bisa menjadi yang terbaik se-Indonesia.”

Selanjutnya, Kota Bandung mendapat apresiasi positif dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melaporkan tingkat korupsi di Kota Bandung sudah mulai turun. Maka bulan Desember Bandung mendapat penghargaan sebagai tuan rumah Hari Anti Korupsi Internasional. 

Selain itu, Kota Bandung juga mendapat penilaian positif dari Ombudsman terkait peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat. Rapor dari Ombudsman soal pelayanan dulu dapat nilai merah, lambat, dan tidak terukur. Sekarang sudah terukur, rapor SKPD sudah hijau. Artinya banyak perbaikan birokrasi dan memperlihatkan perubahan yang tidak terlihat, tapi terasa.

 

Birokrat Muda Bandung

Dengan demikian warga Bandung patut bangga dengan pemimpinnya. Selain masih muda, cerdas dan inovatif, Ridwan Kamil juga membuktikan banyak sekali prestasi dan keteladanan dalam hidupnya. Memang, kemudaan selalu diasosiasikan dengan geliat perubahan, kesegaran, harapan, optimisme dan kebaruan. Lalu bagaimana dengan para bawahan Pak Wali? Terutama para PNS atau abdi-abdi negara muda kita. Adakah mereka juga memiliki semangat, dedikasi, kemurnian dan kepedulian seperti yang diinspirasikan pemimpinnya? Perkenalkan Eka Yudhistira, salah seorang PNS muda teladan di lingkup Pemerintah Kota Bandung. Saat ini Eka mengabdi di Dinas Bina Marga & Pengairan Pemerintah Kota Bandung. Lebih dikenal sebagai admin medsos twitter @dbmpkotabdg, salah satu akun instansi pemerintah Kota Bandung yang  tahun ini yang diapresiasi sebagai The Most Popular Government Account. Siapakah admin di balik akun @dbmpkotabdg ini? Penasaran dengan prestasi dan kinerja DBMP kami memutuskan mewancarainya. Eka Yudhistira, kelahiran Kuningan 10 April 1980, calon bapak yang santun, lemah lembut dan ramah ini memiliki NIP 19800420 201 001 1 002. Simak detil wawancara kami dengan beliau di bawah ini:

(Triyo): Kang Eka, sejak kapankah menjadi PNS? Apa motivasi asali/mula-mula mendaftar CPNS  saat dulu? Apakah motivasi setelah menjadi PNS saat ini?  

(Eka): “Bermula sebagai tenaga kerja kontrak sejak 2004 di Kantor Pemerintah Kota Bandung saya lalu diangkat menjadi PNS terhitung tanggal 1 Januari 2010. Motivasi pertama untuk menjadi PNS tidak ada. Akhirnya nasib atau takdir membawa menjadi PNS. Sebelum menjadi PNS, saya bekerja di bidang musik. Melihat ke belakang, mungkin ini sebenarnya yang membentuk karakter saya. Senang bertemu orang, senang bergaul, senang interaksi, membuka diri dan sosial.”

“Untuk motivasi saat ini saya ingin menjadi PNS yang semakin baik. Sikap dan prinsip bekerja saya pada dasarnya adalah rasa mulang tarima (tahu berterima kasih). Saat ini saya tinggal di daerah Rencong Baleendah yang masuk wilayah Kabupaten Bandung akan tetapi saya kerja dan cari makan di Bandung. Saya digaji dari pajak dari warga Bandung, walau jarak dari rumah saya ke kantor cukup jauh, tapi saya tetap enjoy, ikhlas dan berbahagia.”

(T): Apakah tugas sehari-hari dan tanggung jawab kang Eka?

(E): “Tugas pokok saya adalah menjadi Operator Komputer di Sub Bagian Umum Kepegawaian. Kemudian mendapatkan tugas lain yang diberikan oleh atasan yaitu untuk membantu PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi). Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) memiliki tugas menyediakan akses informasi publik bagi pemohon informasi. Kurang lebih PPID ini adalah untuk mengemban tugas-tugas kehumasan. Ternyata tugas tambahan yang justru saat ini menjadi yang dominan untuk saya. Dalam hal ini menjadi admin akun @dbmpkotabdg. Dengan demikian deskripsi tugas dan sasaran kinerja saya bisa memiliki beban kerja yang banyak sekali hingga tidak terbatas.”

Gambaran detil tugas sehari-hari kang Eka ternyata pernah juga diliput oleh detik.com. Bisa dilihat di sini: http://news.detik.com/berita/2955091/kisah-admin-medsos-pengawal-pasukan-katak-dan-penakluk-api

Dalam dedikasi tinggi pelayanannya Eka kemudian berkata, "Tanpa perlu menunggu laporan atau keluhan masuk atau mensyen masuk ke akun @dbmpkotabdg pun apabila saya menjumpai permasalahan yang menyangkut tupoksi DBMP akan langsung direspon dan ditangani, di-screen capture, dikirim ke WA pimpinan dan untuk diteruskan kepada bagian yang khusus menangani di lapangan. Menurut kang Eka, saat instansinya, DBMP adalah tim yang paling solid se-kota Bandung, dalam artian dari atas, dari level kepala dinas sampai dengan kepala seksi dan pelaksana semua kompak. Jadi memang kami sudah ikrar untuk bersungguh-sungguh berbuat sesuatu yang lebih baik. Sabtu dan Minggu pun DBMP sering kali tetap ada kegiatan dalam hal pelayanan publik. Terutama bila terjadi bencana alam (banjir, longsor dll). Ini juga terjadi karena di Pemerintahan Kota Bandung belum ada Badan Penanggulangan Bencana Daerah sehingga tupoksinya/leading sector nya ada di DBMP. Ini juga bisa terjadi demikian karena kesiaptanggapan DBMP yang senantiasa merespon cepat pada keluhan dan masalah."

(T): Adakah penghargaan dari prestasi yang telah diraih?

(E): Pada tanggal 24 Mei 2015, dalam posisinya dengan kang Eka sebagai admin, akun twitter @dbmpkotabdg diapresiasi meraih penghargaan No. 1  The Most Popular Government Account dalam acara #BandungSocialWave. Ini merupakan acara penganugerahan pertama yang diadakan oleh Media Wave, sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang monitoring, pengukuran dan flatform analisa sosial media di Indonesia bekerja sama dengan BCCF (Bandung Creative Community Forum) dan Pemerintah Kota Bandung untuk mengapresiasi berbagai akun twitter resmi brand/merk/instansi/lembaga yang paling popular diperbincangkan di Kota Bandung. Kriteria penilaiannya sangat objektif karena dilihat dari jumlah sentimen positif yang masuk dari percakapan di twitter dan jumlah user (pengguna twitter) yang berkicau (tweet) tentang akun twitter berbagai brand/merk/instansi/lembaga yang ada di Kota Bandung. Akun twitter @dbmpkotabdg ternyata lulus penilaian tersebut. Membuktikan bahwa di zaman ini, relevansi interaksi digital ternyata sangat signifikan dengan prestasi dan kinerja di lapangan. Saat ini, ketika penulis sedang mewancarai kang Eka Yudhistira, jam 09.25 WIB, sudah ada puluhan tweet mention masuk ke akun @dbmpkotabdg. Dalam sehari ada ratusan tweet yang masuk dan me tweet-mention akun @dbmpkotabdg. Dari berbagai kelurahan, kecamatan, SKPD, komunitas-komunitas, dan warga Bandung sendiri. Kang Eka Yudhistira selanjutnya akan melihat dan menindaklanjuti, apakah perlu dibalas, ditindaklanjuti atau sekedar diretweet. Menurut penuturannya, dari bulan Agustus mention masuk ke twitter dari masyarakat agak menurun. Ini kemungkinan terjadi karena fasilitas masyarakat seperti jalan-jalan sudah makin rapi. Ada suatu hal yang lucu dan menarik, Pak Walikota Ridwan Kamil berujar saat penganugerahan penghargaan: “Piala ini jangan disimpan di kantor DBMP tapi disimpan di ruangan Eka Yudshistira, karena yang bekerja adalah Eka.”  Sepenggal kalimat kejutan  singkat dari Pak Walikota ini diakuinya sudah lebih dari apapun membuat Eka Yudhistira sungguh sangat bahagia, bersyukur dan bangga.” 

(T): Menurut kang Eka, bagaimanakah profil PNS di kota Bandung saat ini?

(E): “Tidak bisa dipungkiri selama 2 (dua) tahun ke belakang ini sejak kepemimpinan Pak Kamil profil PNS sudah banyak terjadi geliat perubahan. Dalam artian mindset para PNS sudah banyak berubah. Mindset itu biasanya berbunyi seperti ini: “Saya ini seorang PNS, saya harus dilayani menjadi saya ini PNS saya harus melayani.” Kang Eka selanjutnya berkata: “Terus terang memang Pak Ridwan Kamil yang memberikan banyak pengaruh kepada tata kelola kepemerintahan di kota Bandung. Dulu itu masyarakat rasanya paling malas sekali hendak ke kantor kecamatan, kantor dinas, ya karena ribet, berbelit-belit, belum lagi kalau ada apa-apa harus ada uang. Semua ada biaya apabila mau berurusan dengan kepemerintahan. Tapi lama-lama sekarang dikikis hal-hal yang seperti itu. Misalnya perizinan sudah mulai online. Memang untuk memininimalisasi korupsi itu salah satu caranya mengurangi pertemuan antar orang-orang, jawabannya yaitu dengan cara online.”

(T): Menurut kang Eka, abdi Negara/PNS yang baik itu yang seperti apa?

(E): Kang Eka berujar tegas: “Yang melayani.” Sejurus kemudian Eka menunjuk kepada PIN Korpri yang beliau pakai. “Kembali ke sini, tulisannya adalah Abdi Negara, sanes nagara nu abdi (negara punyanya saya). Abdi Negara itu tidak lain tentunya pelayan masyarakat. Apapun kebutuhan masyarakat, apapun keluhan masyarakat ya usaha minimalnya kita harus melayani sebaik mungkin. Seandainya ada laporan dari warga yang bukan tupoksi kami selanjutnya bukan cuek dan tidak peduli, tapi tetap diarahkan ke instansi, dinas atau SKPD yang mempunyai kewajiban atau tupoksi di situ.”

(T): Apa sajakah kira-kira hambatan riil di lapangan menjadi PNS yang baik, amanah dan berprestasi itu?

(E): Hambatan terutama adalah problem kesadaran internal para PNS sendiri. Masih banyak yang masih pola pikirnya feodal dan priyayi, bahwa saya PNS, bukan pelayan akan tetapi harus dilayani. Kalau menurut istilah Pak Kamil: “Susah move on, tidak bisa kekinian.”

(T): Menurut kang Eka, apakah segala usaha yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandung saat ini sudah mendatangkan banyak kemajuan dan kebaikan?

(E): “Untuk hasil-hasil pembangunan yang terlihat, sudah banyak sekali ruang publik, banyak sekali taman-taman yang dibangun, jalan-jalan yang diperbaiki, saluran air dan sungai yang dibersihkan dari sampah dll. Walau iya para kritisi mungkin hanya bisa melihat ini sebagai pencitraan atau hanya lipstick (polesan) luar saja. Segala upaya pembangunan fisik tadi adalah memang salah satu program yang dicanangkan Pak Kamil untuk memanusiakan manusia. Contohnya: ingin membangun trotoar jalan yang layak, yang mengakomodasi berbagai kebutuhan warga, termasuk kaum difabel, ada guided line untuk jalur tuna netra. Lalu akan dibuat di setiap ujung trotor dibikin landai, untuk mengakomodasi warga yang menggunakan kursi roda. Untuk jangka panjangnya di masa depan yang akan dilakukan adalah pelebaran trotoar, bukan pelebaran jalan. Minimal trotoar seharunya itu lebarnya 1.5 m. Sebagai contoh, nanti Jl. Merdeka akan semakin dilebarkan trotoarnya. Karena memang badan jalan mau dilebarkan atau ditambah panjang bagaimana juga kendaraan bermotor akan tetap bertambah. Dengan demikian apabila jalannya kecil orang akan semakin berpikir untuk menggunakan kendaraan pribadi. Karena Bandung itu, sebenarnya adalah kota kecil. Menggunakan sepeda dalam beberapa jam sudah bisa dikelilingi semunya. Dengan demikian trotoar-trotoar di Bandung akan dibuat sebagus dan senyaman mungkin supaya nanti warga Bandung mau berjalan kaki. Apabila lelah berjalan-jalan ya kita tinggal duduk di bangku-bangku yang telah dibuat. Karena iya berjalan-jalan sesungguhnya olah raga yang paling murah. Tantangan selanjutnya adalah mempebaiki transportasi publik. Saat ini bus-bus DAMRI sudah banyak diremajakan. Di masa depan, kendaraan dinas pemerintahan nanti secara perlahan akan ditiadakan, akan diganti dengan sepeda listrik. Kang Eka sendiri, meniru Pak Wali, apabila ada kesempatan, selalu berusaha menggunakan sepeda, misalnya undangan rapat di Balaikota dari kantornya di Jl. Cianjur selalu menggunakan sepeda. Walau sedikit ngucur ngesang (berkeringat) tapi tidak apa-apa, karena memang itu tadi, Bandung sebenarnya dekat dan jarak-jaraknya pendek.

Eka kembali meneruskan, “Memang pola pikir mencari hiburan saat ini dengan pergi ke mall misalnya, malah membuat pola hidup yang konsumtif. Jadi biaya hiburan warga rata-rata memang mahal. Saya sendiri, apabila membutuhkan hiburan dan refreshing caranya dengan menyempatkan untuk jalan-jalan ke taman lansia misalnya. Sekedar duduk, memperhatikan air dan menikmati taman sudah kembali segar.”

(T): Apakah pendapat kang Eka, mengenai Ridwan Kamil, Walikota kita?

(E): “Beliau ini seorang sosok yang revolusioner. Membawa perubahan pada tata kelola birokrasi di kota Bandung. Gebrakan dia yang pertama yang menjadi banyak dicontoh adalah: setiap SKPD di kota Bandung harus memiliki akun twitter untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat. Pada pertama kali rasa-rasanya riweuh (merepotkan), harus melapor dan koordinasi ke sana sini apalagi ketika memang tupoksi Dinas Bina Marga dan Pengairan yang harus melayani masyarakat dalam kebutuhan yang beraneka ragam nampaknya akan sangat merepotkan dan menyusahkan sekali. Awal saya resmi menjadi menjadi admin @dbmpkotabdg adalah bulan Desember 2014. Pada awalnya kang Eka tidak begitu suka twitteran. Akun twitter hanya untuk kegiatan silahturahmi atau bertegur sapa saja dengan teman-teman, bukan untuk pekerjaan. Kang Eka selalu mengikuti dari dulu tweet-tweetnya kang Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) begitu positif, begitu informatif, begitu menggugah dan memberikan inspirasi perubahan. Dia melihat Kang Emil ini sungguh figur yang layak dicontoh dan merasa memiliki tujuan untuk bersama peduli membuat perubahan pada Bandung.  Menurut pengakuannya akun pribadi ternyata lebih dulu difollow back oleh kang Emil daripada akun @dbmpkotabdg. Saat itu sungguh menjadi kebanggaan tersendiri bisa di-follow back oleh seorang Ridwan Kamil. Selah difollow back, Eka rajin dan bersemangat memberikan masukan, kritikan dan pemikiran lewat fitur DM (Direct Message) kepada Pak Ridwan Kamil. Ketika di suatu waktu kesempatan bertemu dengan kang Emil, beliau bercanda dengan Eka: “Ieu yeuh si tukang neangan masalah teh.” (Ini dia orangnya yang suka mencari-cari masalah). Dalam arti kata yang baik dan positif bahwa kang Eka dipuji Pak RK sebagai bawahan yang rajin, kritis dan peduli. Pertama-tama ketika menjadi admin @dbmpkotabdg kang Eka mengakui masih ada perasaan enggan dan mengganggap tugas ini tidak terlalu signifan. Dan ternyata lama-lama ketika respon masyarakat yang dilayani kang Eka merasa puas, positif dan bahagia serta mereka tidak segan-segan mengapresiasi dan memuji itu ternyata menimbulkan rasa bangga sekaligus merasa pekerjaan ini bisa begitu membahagiakan dan menyenangkan. “Ternyata membuat orang bahagia itu ke kitanya membuat kita lebih bahagia.” Demikian juga ketika melapor ke atasan dan mendapatkan apresiasi juga membuat semangat, senang dan motivasi makin tinggi. Pada kesempatan lain ketika Pak Ridwan Kamil bercakap-cakap dengan kang Eka di Bandung Commmunication Center (BCC), Pak Ridwan Kamil berdiskusi mengenai aplikasi pemerintahan apa yang bisa dibuat untuk bisa memudahkan mengetahui segala permasalahan umum yang terjadi di kota Bandung. Kang Eka memberikan usul sederhana tapi sangat jitu: ketik “Ridwan Kamil” di search engine di twitter, karena ya semua warga Bandung rata-rata mengadu permasalahannya ke Pak Ridwan Kamil. Dari sekedar bercanda dan guyon hingga mengadukan problem yang serius seputar Bandung ada di situ. Berdasarkan masukan kang Eka tersebut, saat ini operator BCC (Bandung Command Center) juga mengadaptasi cara tersebut untuk mengindeks dan digital mapping permasalahan di kota Bandung.

(T): Siapakah tokoh birokrat/negarawan Indonesia yang menjadi panutan dan teladan untuk kang Eka?

(E): Eka mengagumi Bung Karno, Sri Sultan Hamenkubuwono IX, Ali Sadikin, L.B Moerdani. Untuk birokrat muda Indonesianya tokoh-tokoh yang dikagumi antara lain Ridwan Kamil, Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Pak Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Ahok (Gubernur Jakarta).

Di lingkup Pemko Bandung Eka mengagumi ke Bapak Ir. H. Iming Ahmad, M.Si. MH. Beliau dulu Kepala Dinas Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung, saat ini menjabat Asisten Ekonomi dan Pembangunan di Pemerintah Kota Bandung. Beliau memberikan pengaruh positif bisa menjadi pimpinan yang penuh perhatian dan kepedulian seperti figur seorang ayah. Kemudian Bapak H. Iskandar Zulkarnain, ST, MM Kepala Dinas DBMP saat ini juga panutan dan teladan untuk beliau. Dikaguminya Pak Zul adalah sosok pimpinan yang sangat demokratis dan memperlakukan bawahannya sebagai rekan dan partner kerja.

(T): Apakah mimpi-mimpi ke depan kang Eka dalam peran sebagai abdi Negara?

(E): Selama masih dipercaya menjadi admin twitter @dbmpkotabdg Eka akan tetap berusaha menjalankan tugas ini sebaik-baiknya. Dan ingin melaksanakan tugas lebih baik dari hari kemarin. Ambisi karir kang Eka sebenarnya sederhana. Melakukan perubahan di kota Bandung memang butuh waktu, mungkin kita saat ini belum begitu bisa menikmati, tapi ini untuk anak cucu kita. Karena menurut kang Eka, perubahan seharusnya sudah dimulai dari generasi di atas saya. Sedikit berseloroh, calon bapak ini (istrinya sedang hamil 5 bulan, mari doakan juga supaya lancar proses kehamilannya), apabila suatu ketika anaknya ditanya oleh orang: “Apa pekerjaan bapakmu? Admin twitter @dbmpkotbdg. Keren sekali khan ya?”

Menurut Eka dua tahun ke belakang ini dirasa kota Bandung jauh lebih baik. Dan memang kesadaran dan kemauan dari warga Bandung sendiri juga yang perlu berubah dan meningkat. Karenanya program-program Pemko Bandung perlu didukung oleh warga masyarakat

Eka juga menitipkan pesan untuk anak-anak muda Bandung, “Mari mulailah perubahan dari diri sendiri. Di mana ada kemauan di sana ada jalan. Walau bagaimana pun susahnya, walau bagaimana pun beratnya apapun bisa kita lalui dan atasi." Untuk warga Bandung secara umum Eka juga memohon kita tidak membuang sampah sembarangan terutama di saluran air dan sungai. Karena banyak dampak buruk dari tindakan itu tentu saja akan kembali dirasakan oleh kita. (iyh)